Pengendalian Penyakit Malaria

Kelompok 8 

Ambar Sari
Deasy Dwi Yulianti
Riki Irawan

PENGENDALIAN PENYAKIT MALARIA

     Di Indonesia malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama. Penyakit malaria sangat berpengaruh pada angka kesakitan dan kematian bayi, anak balita dan ibu melahirkan, selain itu malaria juga secara langsung menurunkan produktivitas kerja. Penyakit malaria merupakan salah satu prioritas pemberantasan penyakit menular yang menjadi bagian integral pembangunan bidang Kesehatan. Malaria termasuk ke dalam masalah kesehatan utama yang ditemukan pada penduduk di daerah tropis seperti Kamboja, Malaysia, Myanmar, Thailand dan Indonesia. Plasmodium sebagai agent penyakit malaria, dan penyebab terbanyak adalah plasmodium falciparum dan vivax (WHO, 2019).

      Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit (protozoa) dari genus Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alamiah ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Orang yang menderita malaria secara khas mengalami gejala awal mirip seperti flu, demam tinggi, rasa dingin, dan sakit kepala. Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok umur. Gejala malaria akan tampak setelah 10 hari sampai 4 minggu berupa demam, sakit kepala, muntah, dan menggigil. (Supranelfy & Oktarina, 2021)

       Sedangakan menurut Sutarto & B, (2017) Penyakit malaria adalah penyakit menular yang dapat menurunkan produktifitas dan menyebabkan kerugian ekonomi serta berkontribusi besar terhadap angka kematian bayi, anak dan orang dewasa.  Malaria merupakan penyakit menular, yang disebarkan lewat gigitan nyamuk Anopheles dan dapat menyerang semua kelompok umur. Lebih dari separuh penduduk dunia bermukim di daerah-daerah endemis malaria. Di negara berkembang, termasuk Indonesia penyakit malaria telah menimbulkan kerugian, misalnya menimbulkan banyak korban, biaya perawatan medis dan kehilangan pekerjaan.

    Gejala penyakit malaria dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita serta jenis dan jumlah plasmodium malaria yang menginfeksi. Biasanya penderita malaria menunjukkan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut : demam, dingin, berkeringat, sakit kepala, muntah, badan nyeri, dan rasa tidak enak badan. Dari daerah yang jarang ditemukan penyakit malaria, gejala-gejala ini sering dikaitkan dengan penyakit influensa, dingin, atau infeksi/peradangan umum yang lain, terutama jika tidak mencurigai infeksi malaria. Sebaliknya, penduduk yang berasal dari daerah endemis malaria, sering mengenal gejala-gejala malaria tanpa mengkonfirmasikan diagnosa. Gejala yang terlihat secara fsik meliputi suhu tinggi, berkeringat, badan lemah, dan limpa membesar (Sutarto & B, 2017).

     Penyakit malaria juga dapat dibedakan berdasarkan cara penularannya, yaitu alamiah dan non alamiah. Penularan alamiah adalah penularan melalui gigitan nyamuk anopheles yang mengandung parasit malaria (plasmodium). Sedangkan penularan non alamiah penyakit malaria dari satu orang ke orang lainnya melalui kongenital (malaria bawaan) dan transfusi darah (malaria mekanik). (Sutarto & B, 2017).

     Munculnya penyakit malaria disebabkan oleh berbagai faktor yang menunjang vektor nyamuk Anhopeles bisa tetap survival karena penyusuaian terhadap lingkungan yang ada sehingga faktor yang pertama adalah lingkungan dalam hal ini : 1) lingkungan fisik termasuk suhu, kelembaban, hujan, tapografi, sinar matahari, angin, arus air, potensi perindukan nyamuk, iklim. 2) lingkungan kimiawi. 3) lingkungan biologi. 4) lingkungan sosial budaya termasuk kebiasaan berada diluar rumah sampai larut malam, menggunakan kelambu, memasang kawat kasa pada rumah dengan menggunakan abat nyamuk. Kemudian faktor yang kedua adalah prilaku dalam hal ini pengetahuan, sikap dan tindakan. Faktor yang ketiga adalah pelayanan kesehatan dan faktor yang keempat adalah hereditas. (Siregar & Saragih, 2021).

       Eliminasi malaria adalah suatu upaya untuk menghentikan penularan penyakit malaria setempat dalam satu wilayah geografis tertentu, dan bukan berarti tidak ada kasus malaria impor/kasus malaria dari luar wilayah tersebut serta sudah tidak ada vektor malaria/nyamuk Anopheles di wilayah tersebut, sehingga tetap dibutuhkan kegiatan kewaspadaan untuk mencegah penularan kembali. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang diantaranya faktor umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap, dan keterpajanan penyuluhan.(Suryani, 2018).

        Berbagai program dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai target bebas malaria pada tahun 2030 dengan menurunkan Annual Parasit Incidence (API) malaria di Indonesia. Program pengendalian vector malaria telah dilakukan dengan cara mengendalikan populasi nyamuk dewasa melalui penyemprotan dalam rumah (Indoor Residual Spray) dan kelambu berinsektisida (Long Lasting Insecticide Nets), larvasidasi, serta modifikasi/manipulasi habitat perkembangbiakan nyamuk. Penyemprotan dalam rumah dan pemakaian kelambu berinsektisida bertujuan untuk memperpendek umur nyamuk sehingga penyebaran dan penularan malaria dapat terputus. (Supranelfy & Oktarina, 2021)

Upaya pencegahan sederhana terhadap penyakit malaria dapat dilakukan antara lain dengan cara, yaitu:

1. Tidur menggunakan kelambu berinsektisida.

2. Memasang kawat kassa pada lubang-lubang angin.

3.    Mengolesi badan dengan repelen/bahan-bahan pencegah gigitan nyamuk, pemakaian raket nyamuk, memakai obat nyamuk bakar, serta tidak berada di luar rumah pada malam hari.

      Penyakit malaria masih ditemukan di beberapa kabupaten / kota di Indonesia terutama daerah pesisir. Penurunan kasus malaria merupakan salah satu indikator target Millennium Development Goals (MDGs) yang menargetkan penghentian penyebaran dan penurunan kejadian insiden malaria. Adapun Angka kesakitan malaria (annual pracite incidence/API) per 1.000 penduduk tahun 2009 – 2019 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel Angka kesakitan malaria (annual pracite incidence/API) per 1.000 penduduk tahun 2009 – 2019

No

Tahun

Annual Paracite Incidence/API

1

2010

1,96

2

2011

1,75

3

2012

1,69

4

2013

1,38

5

2014

0,99

6

2015

0,85

7

2016

0,88

8

2017

0,99

9

2018

0,84

10

2019

0,93

Sumber: Ditjen P2P, Kemenke RI, 2020

        Adapun untuk grafik Angka kesakitan malaria (annual pracite incidence/API) per 1.000 penduduk tahun 2009 – 2019 dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

       Berdasarkan table dan grafik tersebut, menunjukan bahwa pada tahun 2018 angka kesakitan malaria ini sebanyak 0,84 sedangkan pada tahun 2010 angka kesakitan malaria ini sebanyyak 1,96. Dimana kejadian ini menjelaskan bahwa ada penurunan angka kesakitan malaria ini, sehingga pada tahun 2019 pun angka kesakitan malaria ini hanya sebanyak 0,93.

DAFTAR PUSTAKA

Siregar, P. A., & Saragih, I. D. (2021). Faktor Risiko Malaria Masyarakat Pesisir di Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai. Tropical Public Health Journal, 1(2 SE-), 1–8. https://talenta.usu.ac.id/trophico/article/view/7261

Supranelfy, Y., & Oktarina, R. (2021). Gambaran Perilaku Pencegahan Penyakit Malaria di Sumatera Selatan (Analisis Lanjut Riskesdas 2018). Balaba: Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara, 19–28. https://doi.org/10.22435/blb.v17i1.3556

Suryani, D. E. (2018). Fakor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Anggut Atas Kota Bengkulu. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Anggut Atas Kota Bengkulu, 6(1), 103–106.

Sutarto, & B, E. C. (2017). Faktor Lingkungan, Perilaku dan Penyakit Malaria. Agromed Unila, 4(1), 173–184. http://repository.lppm.unila.ac.id/5713/3/artikel agro.pdf


Komentar